Sebotol Air dan Sebuah Perjalanan

Resensi cerpen sebotol air dan sebuah perjalanan

Hi, Journalist … kali ini pengen ngomongin soal sastra, tepatnya resensi sebuah cerpen.

Cerpen, seringkali bersifat multitafsir. Tidak ada kebenaran yang mutlak dan tunggal. Terlebih, saya bukan pengarangnya.

Saya hanya bisa menafsirkan teks saja. Merajut satu per satu kalimat yang menjadi gagasan cerita penulisnya. Ketepatan yang saya anggap tepat, belum tentu tepat menurut pembaca lainnya.

Namun setidaknya, saya mencoba menafsirkan karya sastra yang indah ini dari hasil pengamatan pribadi dan mungkin mendekati tujuan dari penulis. Kira-kira kenapa menulis cerpen ini?

Kali ini saya tergelitik meresensi cerpen karya Sastrawan asal Madura, Ongky Arista. Diterbitkan di portal online m.detik.com pada tahun 2018. Silakan baca cerpennya dengan judul Sebotol Air dan Sebuah Perjalanan.

Di mana ilustrasi gambarnya didesign oleh tangan kreatif Nadia Permatasari. Sehingga cerita semakin menarik untuk dinikmati.

Dalam hal ini saya menyoroti beberapa hal, antara lain:

1. Kalimat menarik dalam cerpen

2. Paragraf kunci dalam cerita

3. Pendapat Peresensi

4. Pesan moral

5. Kritik

Kutipan kata atau kalimat yang menarik dalam cerpen tersebut :

Tak ada apa pun yang perlu dipersiapkan lebih lanjut sebab tak akan ada apa pun yang benar-benar penting untuk dibawa selain sebotol air minum. Selebihnya adalah kekuatan mental … 

…. Bukankah kecantikan itu makanan terlezat bagi nafsu?

Dalam perjalanan, ia bukan milik siapa-siapa, bahkan bukan milik dirinya sendiri, begitu ia menyadari. Segala hal bisa terjadi dalam setiap jengkal perjalanan.

…. Betapa pernikahan adalah amanah dan bagaimana pun bentuk nasibnya haruslah dijaga dan ia hanya memupuk kesabaran dari tahun ke tahun.

Perjalanan tanpa kembali inilah yang sebenarnya adalah sebuah keberuntungan bagi dirinya sendiri.

Paragraf Kunci dalam cerita

Dan, jika ia nantinya tak kembali ke pintu rumahnya, dalam arti kembali ke pintu lain, itu sudah hukum.

Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.

Pendapat Peresensi mengenai cerpen

Apa yang hendak disampaikan oleh penulis cerpen?

Menurut saya, di sini penulis hendak menyampaikan bahwa sebuah pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang sakral. Terlepas dari masalah yang ada di dalamnya, pernikahan itu amanah yang harus tetap dijaga.

Uniknya, penulis meramu dengan sangat apik konflik yang ada dalam rumah tangga, yaitu tentang kemiskinan dan luka batin. Kemudian diselesaikan dengan sebuah perjalananan panjang menemukan sebuah keberuntungan.

Padahal keberuntungan itu tidak pernah ada di dunia ini. Mindset yang salah jika sampai percaya dengan sebuah keberuntungan.

Sebab keberuntungan itu datang setelah kita berani mempersiapkan diri dengan memanfaatkan kesempatan. Sedangkan menunggu keberuntungan datang dalam hidup bagaikan menunggu kucing bertanduk.

Hal yang sama dilakukan tokoh istri dalam cerpen yang ditulis Ongky bahwa ia percaya sekali keberuntungan akan memberikan kekayaan padanya kelak.

Itu sama halnya dengan menunggu hujan emas datang tiba-tiba di depan rumah tanpa mau melakukan apa-apa. Sementara sang suami menerima perintah istri tersebut, kemungkinan pertama adalah ingin melaksanakan tanggung jawabnya sebagai suami, dan kedua ia tahu bahwa istrinya tidak pernah mencintainya.

Oleh karena itu, ia hanya butuh menyiapkan mental dengan menerima konsekuensi yang akan ia hadapi saat berada dalam perjalanan panjang, termasuk berakhir pada kematian yang menghampirinya.

Dan sebotol air hanya sebuah simbol yang diramu menjadi judul oleh Ongky Arista sebagai tanda kesetiaan serta sebuah janji yang harus ditepati meski di akhir perjalanan tokoh suami sudah menemukan keberuntungannya sendiri.

Tak berselang lama, ia merasakan tubuhnya berangsur kaku. Ia terkulai dan akhirnya tak bernapas lagi.

Pesan Moral Cerita

Coba perhatikan kalimat berikut:

…. Betapa pernikahan adalah amanah dan bagaimana pun bentuk nasibnya haruslah dijaga dan ia hanya memupuk kesabaran dari tahun ke tahun.

Kenapa tokoh suami mau menuruti perintah istri meski ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan keberuntungan yang dimaksud?

Karena ia sangat paham hakikat dari pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang. Untuk menghindari konflik dalam rumah tangga, tidak sepatutnya dua kepala saling mengedepankan ego.

Salah satu dari mereka harus bisa mengalah. Istri yang kurang bersyukur dan materialistis kerap kita temui di kehidupan masa kini. Tapi untuk mematikan pikiran sedemikian itu, salah satu pasangan harus belajar melembutkan hati dan terus belajar sabar.

Kritik

Cerita ini memberikan gambaran tentang tokoh suami dan istri beserta konfliknya yang sudah sering kita lihat dalam kehidupan di sekitar.

Saya rasa cukup menarik dan cukup mudah untuk memahaminya. Dengan diksi ringan dan alur yang tersusun rapi, cerpen ini ringan untuk dinikmati.

Namun, ada sedikit alur yang cukup membingungkan yang berhasil saya temui di sini, yaitu:

Ia menguap lalu terseret lelap setelah makan. Ketika ia terbangun beberapa jam kemudian, ia telah berada di sebuah kamar. Ia tak tahu menahu. Pagi hari ia tahu bahwa rumah yang ditidurinya adalah rumah salah seorang warga, rumah seorang perempuan yang memberinya semangkuk makanan.

Sebelum paragraf ini tidak ada penjelasan pasti kapan ia bisa berada di rumah perempuan itu. padahal di paragraf sebelumnya,si perempuan hanya memberinya makanan saja.

Apakah ini ciri khas sang penulis untuk menarik pembaca supaya larut dalam ceritanya?

Pembaca diajak berpikir sebenarnya siapa perempuan itu? Karena beberapa kali saya membaca cerpen Ongky Arista ini dengan ciri khas demikian. Ada clue yang terlihat tidak berhubungan padahal sebenarnya masih berkaitan.

 

(Resensi ini pernah menjadi tugas resensi kelas cerpen EFW yang digawangi oleh Ongky Arista) 

3 comments
  1. karena terbatas, kadang alur cerpen menjadi cukup sulit dipahami terutama ketika akan menuju klimaks
    saya kadang membaca 2-3 kali baru paham
    jadi penasaran pingin baca cerpennya

    1. Sama saja. Hehehe
      Saya juga membacanya lebih dari 2 kali. Karena kalau ngomongin sastra suka bikin pusing. Hahaha

      Kita kan terbiasa sama tulisan populer. Jadi kena sastra jadi mikir keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like