gaya parenting single mom

“Jangan tersesat terlalu lama. Kegagalan bukan akhir segalanya. Mungkin kita telah gagal menyandang predikat istri. Tetapi bukan berarti kita gagal juga menjadi ibu hebat di mata anak-anaknya.

- Malica Ahmad -

Kalimat di atas adalah ramuan ajaib single mom yang saya ciptakan untuk menguatkan diri sendiri. Ketika banyak orang lain mencemooh dan memandang sebelah mata status single mom. Maka kata-kata adalah suara. Rangkaian kata tak sekadar aksara untuk dibaca tetapi dia juga teman paling setia single mom seperti saya ini. Meluapkan semua beban hidup yang menggunung seluas-luasnya tanpa kompromi sedikitpun lewat tulisan.

Sehingga saya mampu mensyukuri status yang saya sandang selama 8 tahun ini dengan penuh suka cita. Tak apa-apa hati sudah patah karena kehilangan pasangan, tetapi tidak untuk MIMPI!

Nah, bagaimana single mom seperti saya ini bisa tetap bahagia?Bagaimana saya menerapkan parenting kepada kedua anak saya, meski terkadang emosi perempuan single mom tak tentu arah?Selamat menyelami kisah single mom di blog saya, ya. 

HATI BOLEH PATAH, TETAPI MIMPI TIDAK!

Saya yakin, tak ada perempuan mana pun memiliki cita-cita menjadi single mom. Jangankan ingin, niat berpisah dengan pasangan saja, pasti tidak pernah membayangkannya dalam pikiran meski hanya hitungan detik, bukan?

Akan tetapi, bagaimana jika takdir berkata lain? Terkadang apa yang kita inginkan tidak harus sesuai dengan kenyataan bukan?

Dear, Moms …. Kenyataan pahit tersebut telah mengguncang kehidupan saya 8 tahun yang lalu. Saya kehilangan satu sayap yang tadinya sudah saling terikat, namun ternyata memilih menyerah. Hati saya hancur saat itu. Ibarat kaca jatuh ‘Pyar’ yang hanya serpihan-serpihan halus saja yang tertingggal. Remuk. Bahkan saya tidak yakin, kapan hati remuk tersebut kembali pulih.  

Dalam keadaan yang tidak waras dan patah hati tersebut, satu hal yang selalu membuat saya takut untuk menatap masa depan, yakni “Bagaimana nanti saya mengasuh dua anak saya?” “Bagaimana saya mendidik mereka seorang diri?” “Kalau sulung dan bungsu bertanya tentang ayahnya, saya bakal jawab gimana dong?”

Yah, harap maklum. Kala itu saya masih berusia 25 tahun. Sementara saya harus menjaga dua anak sendirian tanpa seorang suami yang mendukung. Apalagi saat dilanda patah hati yang sempat membuat saya depresi. Pastinya kecemasan dan ketakutan ibu muda tentang mendidik anak sangat menganggu pikiran. Saya takut gagal menjadi ibu dengan ilmu parenting yang belum mumpuni.

Sekilas ingin menyerah karena yang namanya toxic relationship justru ada dalam keluarga saya sendiri. Tetapi beruntung ketika saya terpuruk, ada teman sewaktu SMA mengingatkan. Ucapannya sakit sekali didengar, namun juga menampar. Darinya, saya terinspirasi untuk bangkit.  

Bagaimana bisa seorang sarjana pendidikan berpikiran sempit hanya karena rumah tangganya kandas. Bukankah masih banyak jalan menuju Roma? Banyak cara untuk bangkit dari keterpurukan. Hadapi dan syukuri.

“Kamu boleh sendiri saat ini. Dan aku tahu menjadi single fighter itu tidak mudah. Tetapi aku percaya, kamu bisa mengubah lukamu ini menjadi prestasi yang bisa dipersembahkan ke anak-anakmu kelak,” katanya.

Ah, ya, benar. Jika mimpi-mimpi itu tak mampu saya capai bersama mantan suami. Saya masih memiliki kesempatan berjuang meraih mimpi itu bersama anak-anak, kan? Pasti tak kalah mengasyikkan!  Dan tips agar mimpi itu terwujud, serta demi hidup yang selow dan bahagia setelah patah hati. Saya harus melakukan 5 hal penting berikut ini terlebih dahulu.

  • Ciptakan mantra bahagia untuk diri sendiri
  • Jauhi tempat atau orang yang jadi pemicu sebagai toxic relationship
  • Menerima kenyataan dan belajar memaafkan diri sendiri
  • Meditasi Mindfullness
  • Melakukan Self-care 
gaya parenting the asian parent

ATASI RINTANGAN, MULAILAH GALI KELEBIHAN MENJADI SINGLE MOM

Menjalani hidup sebagai ibu tunggal bukanlah perkara mudah. Jadi jangan heran jika Anda menemukan seorang single mom ngeluh gampang stres dan mudah tersulut emosi. Menurut sebuah study yang dilakukan di McMaster Univers

ity menyatakan bahwa seorang ibu tunggal berisiko tiga kali lipat lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental.

gaya parenting ala single mom

Saya pun merasakan perubahan tersebut. Sejak menyandang status single mom banyak yang berbeda. Bahkan pernah saya bertanya pada diri sendiri,”Kenapa saya tidak mengenali diri saya yang dulu?

Terkadang pemicu kecilnya adalah stereotip ibu tunggal yang kerap tidak baik di mata masyarakat. Sehingga tidak sedikit yang menyimpulkan ibu tunggal tidak mampu membangun keluarga yang ideal. 

Meski demikian tidak bisa dijadikan patokan jika seorang perempuan yang menyandang status single mom itu gagal dalam mendidik anak. Tentu tidak sama sekali. Okelah dalam tingkat kesehatan mental, ibu tunggal memiliki kekurangan. Tetapi di balik kekurangan tersebut, single mom juga memiliki banyak kelebihan.

Tentang kelebihan single mom ini, diulas oleh salah satu aplikasi di mana kontennya fokus pada hal apapun tentang parenting, yakni theAsianparent.   

Di lansir dari theAsianparent, menurut seorang psikolog  sekaligus penulis buku WHO STOLE MY CHILD? Parenting through four stages of Adoloscence single parent, Carl Pickhardt  Ph.D menyatakan ada 10 kelebihan single mom dalam memainkan perannya sebagai ibu tunggal secara personal.  Yakni :

  1. Single mom berdedikasi tinggi serta memiliki tanggung jawab di atas rata-rata orang tua lainnya dalam segala upaya demi kesejahteraan anaknya
  2. Menjadi komunikator handal yang akan membicarakan hal apa saja terkait parenting pada anak
  3. Seorang decision maker yang dalam proses berpikirnya mampu menciptakan sebuah keputusan tegas dan cepat
  4. Single mom adalah seorang pengatur sekaligus pengelola yang baik
  5. Mampu melakukan peran ganda dalam keluarga
  6. Single mom terlatih membuat skala prioritas yang jelas
  7. Memiliki tujuan ekspektasi realistis yang diukur dari kemampuan diri
  8. Mengajarkan pada anak pentingnya tanggung jawab sejak dini
  9. Pandai mengelola keuangan dengan baik
  10. Memiliki Dukungan Sosial dari banyak orang

Memulihkan kondisi hati dan mental seorang single mom memang tidaklah mudah. Tetapi dari 10 kelebihan yang dilansir dari artikel the Asianparent di atas, setidaknya membuka mata para single mom agar tetap semangat dalam menjalani peran ibu tunggal. Sampai saat ini, saya sendiri masih harus belajar menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak. Di samping banyak tantangannya dibanding sukanya, saya berusaha kuat. Tetapi setidaknya, jika dibandingkan saya 8 tahun yang lalu dengan saya yang sekarang, alhamdulilah sangat banyak berbeda. Bahkan saat menulis ini pun, rasanya saya lebih bahagia dari sebelumnya. 

MENJALANI PERAN IBU TUNGGAL, MUDAH ATAU SUSAH?

Apabila Anda pernah mendengar atau membaca kisah perjuangan penulis novel anak series ‘Harry Potter’, maka Anda akan bisa menyimpulkan pertanyaan ‘Susah atau Mudah menjalankan peran ibu tunggal?”. 

Yup, dialah JK.Rowling, sosok ibu tunggal asal Inggris. Bercerai dengan suaminya saat masih berusia 20an tahun. Sementara, saat perpisahan itu terjadi, JK.Rowling tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menafkahi putri semata wayangnya, Jessica. 

Meski demikian, dia pantang menyerah. Baginya, dalam semua kehidupan tidak ada sihir untuk mewujudkan sebuah impian menjadi nyata. Butuh perjuangan dan usaha keras. Jika takdir mengantarkannya sebagai single mother, lalu kenapa? Waktu akan terus berjalan apapun status seorang perempuan. Toh, single mom bukan aib yang membuat kita malu melangkah meraih mimpi seperti orang normal lainnya, kan? 

Saya pun ingin menjalankan peran ibu tunggal dengan belajar dari kisah JK Rowling sekaligus para single mom lainnya. Walaupun saya tahu, di depan mata akan banyak rintangan. Contoh saja rintangan kecil yang pernah dialami si sulung di sekolah.

Waktu itu, kebetulan pembahasan tema pelajarannya adalah tentang keluarga. Lalu, gurunya meminta semua anak menggambar keluarga ideal versinya. 

Sulung menggambarkan keluarga ideal versinya adalah, ibu, adik dan dia. sementara ketika dia melihat gambar yang dibuat teman-temannya, ibu berdampingan dengan ayah, kemudian keluarga lainnya. 

Siapa yang menyangka, sesampainya di rumah, arya bercerita sekaligus bertanya. Ke mana ayahnya? 

Nah, di sinilah peran ibu tunggal mulai dimainkan. Menjelaskan dengan bahasa anak, yang tentunya ada seni dan tanpa ngegas. 

“Wah, pasti kegiatan menggambarnya tadi seru banget, ya, Mas. Coba ibu lihat. Kereeen banget, Mas. Besok kita susul ayah buat foto keluarga ya. Ibu kasih tahu ayah dulu buat janji bertemu. Kan, rumah ayah jauh sama kita. Ibu juga harus izin dulu sama ibunya Mas Arya satunya, kan?” 

Arya pun tersenyum sembari mengangguk. Gurat kesedihan tak lagi tergambar di wajahnya. 

Andai tadi saya menyikapi ceritanya dengan kalimat seperti berikut,“Tanpa ayah, kita bertiga keluarga ideal kok, Mas. Kamu nggak perlu membandingkan dengan keluarga temanmu yang lengkap. karena kamu berbeda. Arya harus mulai belajar mengerti ya.” 

Bagaimana reaksi setelahnya? 

Bisa saja dia akan menundukkan kepala sembari memainkan jari-jarinya karena ibu tidak menanggapi dengan bijak. 

Bisa juga Arya marah, kenapa Ibu ngomong seperti itu? Seolah-olah Arya nggak punya ayah, padahal punya kan? 

Bisa juga Arya memendam perasaan terlukanya sendiri. Yang parahnya akan dibawanya sampai dia dewasa nanti. 

Moms, membahagiakan anak itu sederhana. Kita hanya butuh belajar lebih keras bagaimana mengakui perasaan mereka dengan kata-kata. Bukan memberikan banyak nasihat, yang ternyata di usia yang masih golden age itu sulit untuk mencerna kalimat orang dewasa yang terlalu rumit. 

Nah, ini hanya satu contoh masalah yang saya hadapi. Masih banyak tantangan lain yang kadang terjadi secara tiba-tiba. Dan seketika itu juga saya harus bisa mencari solusinya.

Namun, saya tidak pernah menyerah terkait gaya parenting. Trial dan error berkali-kali demi memberikan kesan berbeda kepada anak-anak bahwa keluarga ideal tidak selalu harus berasal dari keluarga lengkap. Ibu tunggal pun bisa berperan ganda, asal, dia mapu memaknai kedua peran berbeda tersebut sesuai dengan porsinya. Dan beginilah cara saya untuk tetap bahagia meski repot urus anak sendiri.

seni mendidik anak single mom

SENI MENDIDIK ANAK ALA THE ASIAN PARENT

Bukan harta yang patut kita jadikan warisan untuk anak. Sebab warisan berharga orang tua kepada anaknya adalah bagaimana kita mendidiknya sewaktu kecil.

- Malica Ahmad -

Susan Golombok dalam penelitiannya di Journal of Family  Psychology tahun 2016, menyatakan jika kualitas sebuah hubungan keluarga adalah tentang komunikasi ibu dan anak. Pun dari wawancara yang sudah dia lakukan tentang perbandingan orang tua tunggal dan orang tua lengkap tidak banyak perbedaan yang signifikan. Justru anak yang diasuh oleh orang tua tunggal akan mendapatkan minim konflik dibanding anak yang dibesarkan sepasang orang tua. 

Dari pernyataan tersebut, saya menyimpulkan tidak ada orang tua yang sempurna dalam pengasuhan anak. Kendati demikian, kita harus belajar menjadi orang tua yang diidamkan anak-anak kita. Bukan sebaliknya. 

Saya sendiri saat berbicara parenting, jujur, saya tidak mau menjadi ibu saklek atau egois. Di mana saya tidak menerima pendapat siapapun dalam pola pengasuhan anak-anak. Sebaliknya, saya menerapkan ‘orang tua penolong’ untuk kedua anak saya. Dan orang tua penolong yang saya maksud di sini adalah mereka yang bisa menjadi teladan untuk Arya dan Khanza. Yang tujuannya tak lain menggantikan figur ayah. 

Karena saya masih sedikit ilmu soal parenting. Sementara saya tidak memiliki teman berbagi ketika terjadi masalah dengan anak-anak. Maka, saya pun mulai rajin membeli buku parenting sekaligus membaca artikel-artikel keluarga secara online. Jujur, selama ini membantu banget sih. Ibaratnya, saya menerapkan pola learning by doing. 

Nah, untuk bacaan artikel parenting online, saya suka berlangganan di aplikasi theAsianparent. Seperti waktu itu, ketika saya membutuhkan tips mendidik anak era digital. Saya coba search di kolom pencarian menggunakan kata kunci pola asuh anak. Muncul deh banyak artikel parenting bergizi. Anda juga bisa pelajari banyak pola mendidik anak lainya  di sana.

tips mengasuh anak melalui the asian parent

Sejauh ini, aplikasi besutan theAsianparent ini sangat INFORMATIF untuk menambah wawasan terkait parenting. Misal saja dari 21 pola pengasuhan, ada yang namanya parenting lumba-lumba. 

Tahu ikan lumba-lumba? bagaimana cara lumba-lumba bersosialisasi? 

Binatang lumba-lumba selalu ceria dan menyenangkan. Lumba-lumba juga pandai membawa suasana saat bermain. Nah, para moms dan saya disarankan mencontoh lumba-lumba dalam penerapan parenting jika ingin mengantarkan anak-anak pada kesuksesan dan kebahagiaan. 

Artinya, kita sebagai orang tua tidak memaksakan apapun pada anak, tidak overprotektif, dan tidak begitu melakukan perencanaan untuk anak-anak. 

Gaya parenting jenis ini cenderung mengajarkan anak untuk membangun kepercayaannya sendiri, menggali kelebihan dengan tetap dipandu orang tua. Seru, ya? Anak-anak pasti bakal bahagia. Isi rumah pun akan tenteram dengan senyum ceria. Nah, selain metode Dholpin parenting, saya juga tertarik dengan beberapa cara mengasuh anak ala orang Skandanavia. Cek di sini yuk selengkapnya ya.

 

Oh ya, aplikasi theAsianparent ini nggak hanya melulu membahas strategi pengasuhan anak saja, lho. Saya juga terbantu banget dengan artikel terkait asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan untuk persiapaan pendanaan sekolah anak-anak kelak. 

Sengaja saya siapkan dari sekarang, sebab saya tidak tahu seberapa lama usia saya akan bertahan di dunia. Jadi untuk single mom seperti saya ini, dana pendidikan penting banget dipikirkan sejak sekarang. 

strategi mengasuh anak anti ngegas

BELAJAR PARENTING SEMAKIN MUDAH DENGAN APLIKASI THE ASIAN PARENT

the asian parent

Ketika seorang teman menyarankan belajar parenting otodidak di platform  The Asian Parent, saya sudah terpikat sejak pandangan pertama. Artikel padat, informatif dan bahasanya ringan sehingga dibaca orang awam pun masih paham. 

Berawal dari situ, akhirnya saya kepo bagaimana sejarah THE ASIAN PARENT ini bisa didirikan dan masih berjaya sampai sekarang. Ternyata bermula dari pemikiran sang founder, Rhani Mahtani, tentang boleh nggak anak-anak usia 3-6 tahun diberi makan durian. 

Sayangnya, saat proses pencarian referensi tidak sepenuhnya menjawab rasa penasaran Rhoshni yang saat itu bekerja di New York, Amerika Serikat sebagai pengasuh anak atau baby sitter. Dari minimnya konten yang relevan akan budaya parenting di Asia Tenggara tersebut, akhirnya Roshni menulis artikel pertamanya dengan memberikan pengetahuan yang lengkap soal memberi durian untuk anak-anak.

Siapa yang menyangka, dari situ telah lahir blog sederhana yang kini telah berinovasi menjadi platform parenting keren, sekaligus perusahaan dagang, komunitas, dan konten bidang teknologi.

Kini, TAP atau theAsianparent telah berada di 13 negara dan telah menjangkau 50 juta orang tua menjalani kehamilan sehat dan keluarga sehat hanya dengan sekali klik di aplikasi online saja. Anda belum bergabung di aplikasi TAP? Simak caranya di bawah ini.

 

aplikasi parenting the asian parent

FITUR-FITUR YANG MENGAGGUMKAN